Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan

Haji Reguler

Diposting oleh Fera on Kamis, 15 Maret 2012


SelengkapnyaHaji Reguler

Haji Non Qouta

Diposting oleh Fera

SelengkapnyaHaji Non Qouta

Makna Haji

Diposting oleh Fera on Jumat, 17 Februari 2012




Sebagai seorang muslim, memenuhi kewajiban rukun Islam yang ke lima ini adalah satu hal yang patut diperjuangkan. Bukan hanya nilai kewajiban yang menjadikan ibadah ini begitu penting, tetapi juga makna historikal tentang perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari kebenaran akan Tuhannya.

Ibrahim dikenal sebagai bapak monotheism, Beliaulah yang awalnya berusaha merubah budaya dan pemikiran kaumnya  dari budaya dan pemikiran polytheism, menganut kepercayaan kepada banyak tuhan atau dewa, kepada budaya dan pemikiran monotheism yang menagnut kepercayaan terhadap satu Tuhan. Oleh karena ini agama-agama samawi yang berkembang dalam peradaban manusia, semua merujuk kepada Beliau. Karena beliaulah yang menegakkan konsep ketauhidan.

Berhaji sendiri sebenarnya adalah salah satu usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya. Ibadah yang membutuhkan pengorbanan yang banyak, tidak hanya pengorbanan berupa materi, tetapi juga waktu dan pengorbanan hati untuk bisa senantiasa ikhlas.

Semestinya di hati kecil setiap muslim itu menyimpan keinginan untuk berangkat Haji, karena di sanalah letak kesempurnaan rukun Islam yang selama ini dipercaya. Meskipun memang biaya haji yang dibutuhkan cenderung bertambah tiap tahunnya,namun tidak menjadi kendala bagi hati yang telah merindu panggilan-Nya. Hampir setiap tahun, jumlah jamaah yang beraangkat ke tanah suci terus meningkat, berbanding lurus dengan biaya haji yang juga makin naik dari waktu ke waktu.

Antusiasme jamaah yang hendak pergi haji, agaknya tidak pernah surut meski mereka harus rela menanti sekian tahun untuk mendapatkan tempat duduk. Apa yang menjadi penyemangat mereka??? Tidak lain adalah sebuah keimanan yang terpatri dalam hati. Pergi haji, adalah satu cita-cita yang seringkali menginspirasi sebuah perjuangan hidup seorang muslim.

Begitu banyak cerita yang kita dengar tentang sebuah perjuangan keras untuk bisa naik haji dari orang-orang kecil yang notabene-nya hanyalah seorang pedagang kecil yang untuk menghidupi keluarga saja sudah susah. Namun itulah kekuatan dari doa yang terus dilantunkan...Sehingga Alloh pun dengan kuasa-Nya begitu mudah mengabulkan keinginannya.
Pernah takjum dengan cerita seorang kawan lama, ibunya seorang pedagang kue keliling yang hanya memiliki laba bersih sekitar Rp. 25.000 setiap harinya. Dari laba bersih itu ia harus menyisihkan untuk biaya sekolah dan biaya makan keluarganya. Suaminya sudah meninggal dunia sejak anak-anaknya masih kecil. Namun ia tidak pernah mengemis untuk meminta belas kasih untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dan ia pun masih bisa menanamkan cita-cita sucinya untuk pergi haji di dalam hatinya.

Tekad yang kuat dan doa yang tak kunjung putus, membuat Alloh makin mencintai beliau. Rupiah demi rupiah pun dikumpulkan dengan segala daya upaya. Dan yang paling menakjubkan, adalah keistiqomahan beliau dan cara beliau menabung....setiap harinya beliau menyisihkan Rp. 5.000 yang beliau simpan dalam sebuah kaleng bekas susu. Kemudian kaleng itu disimpannya dalam sebuah kotak kayu yang diletakkannya dibawah tempat tidurnya. Di kotak itu beliau tuliskan....”Untuk Pergi Haji, Amin...” Setiap hari ia terus mengelus kotak itu sambil terus berdoa...”Kabulkanlah keinginan Hamba, Ya Alloh...”
Setelah satu bulan, kotak itu dibukanya. Uang yang ada di kaleng susu itupun dihitungnya dengan teliti. Kemudian ia pun membawa uang itu ke pasar dan dibelikannya emas. Dan emas itupun dibawa ke rumah untuk disimpan berdampingan dengan kaleng susu itu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti. Tidak terasa sudah hampir 5 tahun ikhtiar itu dilakukannya. Namun ternyata, biaya ongkos haji pun ikut merangkak naik...Alloh pun menjawab semua doanya. Seiring dengan anjloknya nilai rupiah, ternyata kepingan-kepingan emas yang sudah disimpannya selama lima tahun, nilainya justru naik dengan fantastis. Beginilah cara Alloh mengangkat hamba-Nya yang telah berpayah-payah dalam menunaikan kewajiban sebagai hamba, untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Dengan begitu mudahnya, Alloh melapangkan jalan ibu tua itu untuk pergi haji.
Satu hal yang bisa menjadi catatan penting untuk kita adalah, biaya haji yang setiap tahunnya merangkak naik, janganlah menjadi satu alasan untuk menggugurkan kewajiban kita untuk menggenapkan rukun Islam yang ke lima itu. Seberapa berat perjuangan yang kita lakukan untuk mewujudkan keinginan kita untuk menunaikan ibadah haji, pasti akan dinilai oleh Alloh, yang kita butuhkan hanyalah terus berdoa, berikhtiar dan bersabar.
Untuk mengantisipasi kenaikan ongkos pergi haji, ada baiknya kita menabung dalam bentuk kepemilikan emas. Karena disamping melindungi aset kita dari gerusan inflasi, menabung emas, dalam dinar lebih baik, juga sebagai bentuk penegakan muamalah.

Karena ada enam benda yang dianjurkan oleh Rasulullah sebagai alat tukar dalam perdagangan, diantaranya adalah emas atau dinar dan perak atau dirham. Di samping karena nilainya yang relatif stabil, dengan menyimpan emas secara tidak langsung kita juga menyelamatkan aset kita dari inflasi yang makin lama makin naik karena banyaknya uang yang beredar.
SelengkapnyaMakna Haji

Masjidil Haram, Masjid Allah yang Pertama

Diposting oleh Fera on Kamis, 16 Februari 2012


Dari Abu Dzar ra, ia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?' Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram'. Aku bertanya, 'Kemudian (masjid) mana?' Beliau menjawab, 'Kemudian Masjidil Aqsha'. Aku bertanya lagi, 'Berapa jarak antara keduanya?' Beliau menjawab, “Empat puluh tahun. Kemudian dimana pun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah, karena keutamaan ada padanya.” (HR Bukhari-Muslim)

Masjidil Haram terletak di pusat Kota Mekkah. Di tempat inilah Ka’bah yang menjadi kiblat kaum muslimin berada. Di tepat ini pula jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia tumpah-ruah setiap tahunnya dalam  ritual ibadah haji. 

Pada masa Rasulullah saw, bangunan Masjidil Haram masih sangat sederhana. Begitupula saat pemerintahan Khalifah pertama, Abu Bakar Ash Shiddiq. Pada masa itu, Masjidil Haram belum memiliki dinding dan belum diberi penerangan lampu.

Masa kekhalifahan kedua pun tiba, dengan Umar bin Khatthab sebagai khalifahnya. Pada masa ini, banyak penduduk dari penjuru Arab, Syam, Mesir, dan Irak yang masuk Islam. Otomatis, jumlah jamaah haji menjadi semakin besar. Agar ibadah haji beisa dilakukan dengan baik, Khalifah Umar bin khatthab membeli rumah-rumah yang tersebar di sekeliling Masjidil Haram. Selanjutnya, dimulailah perluasan Masjidil Haram yang pertama kali tercatat dalam sejarah.

Rumah-rumah yang telah dibeli selanjutnya dirubuhkan dan dilakukan perluasan Masjidil haram. Di sekeliling Masjid pun dibangun dinding dengan ketinggian di bawah tinggi manusia. Selanjutnya, diletakkan pula lampu-lampu pada dinding Masjidil Haram.

Renovasi terus berlanjut pada masa Khalifah dan penguasa selanjutnya, yaitu pada masa Utsman bin Affan, Abdullah bin Zubair, Abdul Malik bin Marwan, Al Walid, masa Kekhalifahan Utsmani, hingga penguasa Arab Saudi saat ini.

Setiap jamaah haji dan umroh tentu tidak ingin melewatkan salat di dalam masjid agung ini. Hal itu disebabkan pahala salat di dalamnya sama dengan 100.000 kali pahala salat di masjid lain. 

Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan shalat di Masjidilharam lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).

Permisalannya, pahala salat satu kali di Masjidil Haram sama dengan pahala kita melakukan salat selama hampir 248 tahun di masjid lain. Subhanallah! (RA)
SelengkapnyaMasjidil Haram, Masjid Allah yang Pertama

“Emak Ingin Naik Haji” Film Laris dan Dipuji

Diposting oleh Fera on Sabtu, 28 Januari 2012

Perjalanan ibadah haji selalu menarik untuk diceritakan. Jika ada 100 orang berangkat haji, patilah ada 100 cerita unik dan inspiratif. Film “Emak Ingin Naik Haji” yang dirilis beberapa waktu lalu pun menyimpan pesan yang unik.

Film kisah berhaji yang diangkat dari novel laris tulisan Asma Nadia ini diperankan oleh Aty Kanser, Didi Petet, Niniek L Karim, Henidar Amroe, Cut Memey, Reza Rahadian, Ayu Pratiwi, Gagan Ramdhani, Alexia, Aswin Fabanyo, Helsi Herlinda, Genta Windi, Dedi Maulana, dan Ustad Jeffry Al Bukhori.

Kisah diawali dengan kehidupan Zein (Reza Rahadian) dan Emak (Aty Kanser) di pesisir pantai. Zein yang sibuk akhirnya harus menerima kenyataan pernikahannya gagal dan harus menjadi duda. Hidup berdua, setelah sang ayah dan kakaknya meninggal, membuat Zein sangat menyayangi emaknya. Untuk hidup sehari-harinya, Zein bekerja sebagai penjaja lukisan keliling. Emak sendiri bekerja sebagai pembantu di keluarga Bang Haji (Didi Petet).

Suatu hari, Zein menyadari ada satu mimpi emaknya yang belum terwujud, yakni menunaikan ibadah haji. Sadar bahwa bukan orang berada, Emak rela menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan mimpinya. Zein yang melihat semangat sang emak untuk bekerja dan menabung meski usia emaknya sudah tidak muda lagi, membuat hatinya tergerak. 

Secara tak sengaja, ia melihat program undian berhadiah yang hadiahnya naik haji jika berbelanja suatu produk dengan kelipatan tertentu. Ia pun mengumpulkan kupon undian yang dibuang pengunjung. Selang beberapa hari kemudian, di sebuah koran ia melihat pengumuman undian tersebut. Antara percaya dan tidak, nomor undian milik Zein-lah yang memenangkan hadiah utama untuk naik haji. 

Zein pun buru-buru pulang untuk mengabarkannya kepada Emak. Sesampainya di rumah, ia tidak mendapati emaknya tidak di rumah. Akhirnya, ia meninggalkan pesan. Sedang ia berusaha mencari Emak di sekitar rumah. Karena kegirangan ia tak menyadari dari arah lain ada mobil melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Kelanjutannya, silakan menonton di bioskop ya.

[ayb@2012]

===== ONH Plus, Umrah
Selengkapnya“Emak Ingin Naik Haji” Film Laris dan Dipuji

Ibadah Haji Merupakan Sarana Zikrullah

Diposting oleh Fera on Rabu, 16 November 2011

==== Haji, Umrah






Haji menjadi sarana Zikrullah. Setiap gerakan dan kegiatan selama menunaikan ibadah haji tidak pernah luput dari doa dan bacaan-bacaan yang mengandung pujian akan kemahabesaran, kemahakuasaan, dan kemahamurahan Allah SWT. Banyak sekali nilai yang terkandung didalam pelaksanaan ibadah haji, antara lain:

1. Haji dapat menghapus semua dosa kecil dan segala kesalahan;

2. Haji dapat membersihkan jiwa dan mengembalikannya kepada kesucian dan keikhlasan sehingga seseorang selalu memiliki motivasi untuk beribadah kepada Allah SWT;

3. Haji dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang dan komitmennya dengan Allah;

4. Perjalanan ibadah haji yang cukup berat akan menumbuhkan sikap sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang semakin berat;

5. Ibadah haji adalah ibadah yang sangat penting dan menempati urusan ketiga setelah beriman kepada Allah dan jihad di jalan Allah SWT.
SelengkapnyaIbadah Haji Merupakan Sarana Zikrullah