Tampilkan postingan dengan label kisah haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah haji. Tampilkan semua postingan

Naik Haji karena Berdoa

Diposting oleh Fera on Kamis, 12 April 2012

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu’min: 60)

“Ya, Allah...Kapan aku mengangkat koperku sendiri?”

Itulah permintaan Ujang, seorang kuli panggul di Bandara Soekarno-Hatta saat mengangkat koper-koper jamaah haji.

Kala itu Bulan Muharram 1424 H. Tepat pada saat para jamaah haji kembali pulang ke tanah air. Sebagai seorang porter (tukang angkut), mengangkat koper adalah pekerjaan sehari-harinya. Namun kali ini, koper yang diangkat bukan sembarang koper. Namun koper milik jamaah haji yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudi Airlines.

Setiap kali mengangkat satu koper, Ujang membaca basmallah dan bershalawat kepada Nabi saw. Sudah berpuluh koper diangkatnya, hingga saat memegang gagang sebuah koper terbetik keinginan dan pengaduannya yang kuat di dalam hati, “Ya, Allah, kapan aku mengangkat koperku sendiri seperti ini?”

***

Hari pun berganti. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tepat empat bulan kemudian, terdapat pengumuman pemberian bonus dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah...nama Ujang tercantum di antara 17 karyawan yang akan diberangkatkan perusahaan ke tanah suci atas biaya perusahaan. Ujang pun bersujud syukur menyambut berita gembira itu.

Namun, setelah berita gembira itu datang, Ujang tertegun. “Bagaimana dengan Iis, istriku, jika tahu aku hanya berangkat seorang diri tanpa bersamanya?” pikirnya. Memang, selama ini sepasang suami-istri itu selalu berdoa bersama agar diperkenankan berangkat naik haji bersama-sama.

Di sepanjang jalan, Ujang merancang kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita itu. Jangan sampai berita gembira itu justru akan membuat istrinya bersedih. “Semoga tidak ada salah kata yang bisa melukai hati istriku,” harapnya.

Sesampainya di rumah, Ujang segera menemui istrinya. Dengan harap-harap cemas, ia pun menyampaikan kabar kejutan yang diterimanya dari kantor.

“Is, sebelumnya...Akang mau minta maaf sama kamu,” ujar Ujang.

“Emangnya ada apa, Kang?” tanya Iis.

“Akang dapat berita gembira, tapi khawatir kamu malah jadi sedih. Janji ya? Jangan marah, apalagi sedih,” ungkap Ujang hati-hati.

Iis terdiam sambil memandang suaminya dengan wajah bertanya-tanya. Penasaran...

“Begini Is. Akang tadi dapat berita kejutan dari kantor. Katanya Akang akan diberangkatkan naik haji, dibayarin kantor,” lanjut Ujang.

“Alhamdulillah!” seru Iis kegirangan. Segera dipeluknya sang suami dengan erat, “Selamat ya Kang...Kirain berita sedih.”

“Iya Is, memang berita gembira. Tapi Akang takut kamu sedih. Akang nggak bisa ikut bayarin Iis naik haji. Tau sendiri, kan, Akang cuma pegawai kecil. Kalau saja duitnya ada, Akang ingin kita bisa naik haji sama-sama,” ujar Ujang.

Iis memahami kegundahan hati Ujang. Sambil tersenyum ia berujar, “Ya udah, nggak usah dipikirin, Kang. Iis ikhlas kok melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa, doain Iis biar cepat nyusul Akang naik haji.”

Alhamdulillah...Hati Ujang menjadi gembira dan damai rasanya. Apa yang ia khawatirkan rupanya tidak terjadi. “Terima kasih, Ya Allah...”

***

Saat keberangkatan Ujang ke Tanah Suci pun tiba. Banyak para tetangga yang ikut mengantarkan. Sebagaimana lazimnya kebiasaan di kampung, Ujang diantar dilepas dengan azan dan iqamat. Saat shalawat dustur dikumandangkan, banyak orang yang meneteskan air mata, tak terkecuali Ujang. Dipeluknya satu persatu kerabat, tetangga, dan orang yang dikenalnya sambil meminta restu.

Hingga tiba giliran Iis mencium punggung tangan Ujang. Air mata mata keduanya deras mengalir saat berpelukan sebagai tanda perpisahan sementara.

“Kang Ujang, jangan lupa doain Iis di Baitullah, ya. Panggil-panggil nama Iis, insya Allah Iis dan anak-anak ikhlas melepas Akang. Semoga kami semua bisa nyusul berangkat haji dengan doa Kang Ujang,” ujar Iis.

***

Empat puluh dua hari lamanya Ujang menuntaskan hajinya di Mekkah dan Madinah. Kini, ia sudah kembali ke tanah air dan bekerja kembali seperti semula. Meski masih berkutat dengan pekerjaan lamanya, ia kini sudah mendapat gelar Pak haji dari orang-orang yang dikenalnya.

Suatu hari, tanpa sengaja, Iis mengutarakan keinginannya untuk naik haji kepada Ujang. Dengan nada sedih, diungkapkannya kegundahan hatinya yang sudah begitu rindu ingi berkunjung ke Baitullah. Mendengar itu, Ujang pun turut merasakan kerinduan hati Iis. Dengan lembut dihiburnya hati sang istri.

“Is, kamu berhak naik haji seperti halnya orang lain. Tapi, Akang belum punya uang untuk memberangkatkan kamu, Is. Cuma Allah satu-satunya harapan kita. Yuk, sama-sama kita nanti shalat tahajud dan meminta kepada Allah. Jangankan naik haji, minta lebih dari itu pun Dia Maka Kuasa untuk mengabulkan,” ajak Ujang. Iis pun menurut.

Setiap hari mereka berdoa tanpa lelah, terutama Iis. Jika Ujang sedang kecapekan dan tidak bisa bangun malam untuk tahajud, Iis shalat sendiri. Hingga suatu malam, antara tidur dan terjaga, Ujang mendengar Iis berdoa dengan derai air mata. Memohon dengan sangat kasih sayan Allah swt. Dalam hati, Ujang ikut mengaminkan doa istrinya.

***

Hingga suatu pagi, sebuah telepon datang pada saat Ujang hendak berangkat kerja. Ternyata, telepon itu dari kak iparnya yang mencari Iis, istrinya. Diserahkannya gagang telepon pada Iis. Dari jauh, Ujang mengamati istrinya yang tampat terkejut dan tak banyak bicara. Selesai menutup telepon, Iis menangis.

Perasaan Ujang jadi tidak enak. “Jangan-jangan ada yang meninggal,” pikirnya. Didekatilah istrinya dan dirangkulnya.

“Ada apa, Is,” tanya Ujang.

Sambil sesengukan, Iis mengatakan bahwa baru saja kakaknya telepon untuk meminta Isis menemaninya naik haji. Karena suami kaknya tidak bisa menemani, Iis pun diajak naik haji atas biaya kakaknya.

“Alhamdulillah ya Allah..begitu pemurahnya Engkau...”

Mereka pun tersungkur..bersimpuh sujud, syukur atas nikmat yang dib erikan Allah swt kwpada mereka. (RA)

*Cerita ini diadaptasikan dari kisah yang ditulis oleh A. Y. Ibrahim dalam buku 11 Langkah Menuju Kemabruran
SelengkapnyaNaik Haji karena Berdoa

Derita Sakit Ginjal Sembuh di Tanah Suci

Diposting oleh Fera on Rabu, 11 April 2012

Sakit, atau merasa sakit, merupakan salah satu alasan bagi seseorang untuk menunda keberangkatannya naik haji. Setidaknya ada dua bayangan atau pertanyaan yang terbayang.

1. Bagaimana saya bisa melaksanakan ibadah di tanah suci dengan baik jika menderita sakit?

2. Jika uang saya digunakan untuk membayar haji, bagaimana dengan ongkos berobat saya di kemudian hari?

Disadari atau tidak, mungkin ada dari kita yang memiliki anggapan tersebut.

Namun, percaya atau tidak, justru ada pengalaman seorang penderita batu ginjal yang sembuh dari penyakitnya yang bertahun-tahun ketika di tanah suci. Berikut ini merupakan kisah seorang jamaah haji di sebuah kabupaten di Jawa Timur bernama Pak Ahmad (bukan nama sebenarnya).

Pak Ahmad termasuk dalam rombongan haji Tahun 2006 atau 1427 H. Sebelum itu, beliau menderita penyakit kencing batu atau batu ginjal cukup kronis. Beragam upaya medis dan konsumsi obat dokter menjadi menu sehari-hari. Kondisi sakit ini berlangsung cukup lama. Jika kambuh, rasa sakit yang menderanya sangat luar biasa.

Namun, sakit itu bukan menjadi penghalang bagi Pak Ahmad untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Diputuskannya untuk berangkat haji pada tahun 2006 dengan berbekal obat resep dokter. Rasa takut sakitnya kambuh di tanah suci dikalahkan keinginannya yang menggebu untuk menjalankan Rukun Islam kelima di tanah suci.

Dengan diiringi rasa sakit, Pak Ahmad tetap menjalankan aktivitas harian di Masjidil Haram. Jika rasa sakit menyergap, ia pun mengonsumsi obat resep dokter yang dibawanya dari tanah air. Ia tak ingin, rasa sakit itu mengganggu kenikmatannya dalam beribadah.

Suatu saat, ia hendak kembali ke pemondokannya di sektor IV Jawar Taisir setelah beribadah di Masjidil Haram. Namun, rasa sakit karena gangguan ginjalnya kembali kambuh. Ironisnya, obat resep dokter yang telah disiapkan cukup selama di Tanah Suci ternyata sudah habis. Dengan tertatih-tatih ia mencari taksi untuk pulang kembali ke pemondokannya yang berjarak 1,5 km dari Masjidil Haram. Padahal, jika tidak terserang sakit, ia biasa menempuhnya dengan berjalan kaki.

Sesampainya di pemondokan, Pak Ahmad segera ditangani dokter kloter dan perawat medis. Namun, obat untuk kencing batu simpanan kloter tidak tersedia saat itu. Akhirnya, dokter membuatkan resep obat untuk dibeli di apotek rujukan di sekitar sektor Jarwal. Ketua regu dan beberapa teman Pak Ahmad pun berputar untuk mencari obat tersebut.

Sementara menunggu obat datang, Pak Ahmad merintih menahan rasa sakit. Kepanikan pun terjadi ketika beliau mengeluarkan air seni disertai darah yang begitu banyak. Belum berakhir sampai di situ, ketua regu dan teman-temannya yang telah kembali tidak berhasil mendapatkan obat tersebut.

Akhirnya, dengan segala kepasrahan dan keikhlasan atas ujian itu, Pak Ahmad meminum air Zam-Zam yang dibawa dari Masjidil Haram hingga lebih dari 3 liter. Dengan terus berdoa, diminumnya air tersebut hingga tidak mampu meminumnya lagi. Pak Ahmad pun beristirahat di pembaringan sambil terus berdoa dan menahan rasa sakit. Sementara air seni bercampur darah terus keluar.

Setelah 30 menit berlalu, Pah Ahmad minta diantar ke kamar mandi. Dengan tertatih menahan sakit, beliau dipapah oleh rekan-rekannya menuju ke kamar mandi yang terletak di ujung kamar. Selang beberapa saat setelah Pak Ahmad masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara keras. BLETAAKK..! Seperti suara sesuatu menabrak dinding kamar mandi. Apa yang terjadi?

Subhanallah! Terdengar Pak Ahmad berteriak dari dalam kamar mandi. Teman-temannya yang berada di luar kamar mandi menjadi bingung. Apa yang terjadi?

Beberapa saat kemudian Pak Ahmad keluar sambil berlinangan air mata, tetapi tersenyum bahagia. Adapun tangannya menggenggam batu sebesar jempol kaki orang dewasa. Ya, itulah batu yang menimbulkan suara keras tadi.

“Subhanallah...Allahu Akbar... ,” begitulah ucap Pak Ahmad berkali-kali meneriakkan kalimat thoyyibah sambil menunjukkan batu seukuran jempol kaki itu. Itulah batu ginjal yang selama ini bersarang di ginjalnya selama bertahun-tahun. Di dalam kamar, Pak Ahmad pun bersujud syukur atas karunia dan keajaiban yang beliau rasakan.

Semua teman-temannya yang ada di kamar takjub, merinding, dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya kalimat thayyibah yang terus keluar dari mulut mereka melihat kejadian yang menakjubkan ini. Sejak saat itu, hilang pula rasa sakit yang selalu diderita Pak Ahmad selama ini.

Pak Ahmad pun bercerita bahwa saat mengeluarkan air seni, tiba-tiba terdengan suara yang begitu keras menabrak dinding kamar mandi. Setengah tidak percaya, dicarinya apa yang terlempar tadi. Subhanallah, ternyata batu ginjalnya. Hal menakjubkan selain itu adalah tidak munculnya rasa sakit ketika batu itu keluar.

Itulah keajaiban haji. Itu pula keajaiban air zam-zam yang ada di tanah suci. Semuanya sudah disabdakan lewat lisan Nabi Muhammad saw yang diberkahi.

Dari Abdullah Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji dan orang yang umrah, adalah tamu Allah. Dia memanggil mereka, maka mereka pun menjawab (panggilan)-Nya. Dan mereka memohon kepada-Nya, Dia pun memberikan permohonan mereka.” (HR. Ath Thabrani dan Ibnu Hibban)

Disebutkan oleh As Suyuthi dari hadis Ibnu Abbas, dan HR. Al Hakim dan Ad Daruquthni bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Air zam-zam itu berkhasiat sesuai dengan apa yang diniatkan. Jika engkau meminumnya dengan niat meminta kesembuhan maka Allah akan menyembuhkanmu, dan jika engkau meminumnya dengan niat agar dahagamu hilang maka Allah akan menghilangkan dahagamu. Ia adalah galian Jibril dan siraman Allah kepada Ismail.”

Jadi, jangan takut lagi untuk naik haji. Jangan pula rela untuk menunggu berlama-lama. Wujudkan segera niat kita untuk naik haji. Semoga Allah memberkahi. (RA)
SelengkapnyaDerita Sakit Ginjal Sembuh di Tanah Suci

Naik Haji Berkat Doa Mertua

Diposting oleh Fera

Jangan pernah remehkan doa orang lain kepada kita. Apalagi doa mertua. Nah, artikel kali ini mengangkat sebuah kisah nyata yang diadaptasikan dari seorang kompasianer yang menuliskan pengalaman hajinya di Kompasiana.

Memang, bicara tentang rezeki dari Allah itu memang tidak terduga. Ada yang mendapatkannya dengan jalan yang sulit, adapula yang mendapatkannya dengan jalan yang sangat mudah. Ada yang mendapatkannya sesuai target dan rencana, ada pula yang mendapatkannya secara tidak terduga. Termasuk mendapakan rezeki untuk naik haji.

Berbicara tentang rezeki untuk naik haji bisa beragam cara mendapatkannya. Setiap jemaah haji pasti punya kisahnya masing-masing. Ada yang menjual tanah dan sawahnya. Ada yang mengumpulkan dana tabungan selama bertahun-tahun. Ada yang dinaikkan haji oleh kantornya. Ada pula yang ketiban rezeki, diajak naik haji bersama tanpa keluar modal. Nah, berikut kisah Saiful (bukan nama sebenarnya) bersama istrinya berangkat naik haji bersama ibu mertua pada tahun 2005.

Sebenarnya, Saiful bukan termasuk orang yang biasa saja. Buktinya, ia bisa melanjutkan S2-nya di sana. Walaupun biaya kuliahnya berasal dari beasiswa. Bahkan, ia bisa memboyong sang istri untuk menemaninya di sana.

Awal ceritanya memang cukup menarik. Dimulai saat Saiful mengikuti sebuah seminar tentang perencanaan karir pada tahun 1995 di tempat kuliahnya. Ketika itu, ia menuliskan dalam My Map of Life (Peta Hidup Saya), di antaranya akan berangkat haji ketika berumur 45 tahun. Mengapa 45 tahun? Karena pada bayangannya, orang yang naik haji itu tentu orang yang sudah mapan secara finansial, sudah punya rumah, punya mobil Innova, dan punya banyak waktu luang. Ya, setidaknya pada umur 45 tahun. Namun, kenyataannya?

Kenyataannya justru berbeda. Ia bisa naik haji 15 tahun lebih cepat! Ya, tepatnya pada saat umurnya baru 30 tahun. Yang dia rasakan, bukan setelah ia punya rumah, mobil, atau pun pekerjaan yang mapan. Anugrah haji itu justru didapatkan dari usahanya bersama istri dari usaha sampingan menjadi cleaning service dan tukang cabut rumput! Di sinilah ia merasakan bahwa doa sang mertua begitu berarti. Bahkan ia beranggapan bahwa karena doa mertuanyalah, Allah mengijinkannya pergi berhaji bersama Istri.

Saat itu tahun 2005, ketika ONH reguler untuk satu orang berkisar 20 juta rupiah. Datang kabar via telepon dari ibu mertua bahwa tidak bisa berhaji tahun depan (2004) bersama-sama kawan sekampungnya, wating list karena telat bayar. Padahal, ketika itu usia beliau sudah mencapai 70 tahun sehingga membutuhkan pendamping. Saiful pun tak mengerti, atas pertimbangan apa ibu mertuanya meminta mereka berdua menemaninya. Padahal, banyak saudara lain yang lebih mampu.

Tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya, Saiful pun berembug dengan istrinya. “Dik, kita tidak punya dana, tapi coba kita kerja apa saja yang bisa dapatkan uang. Kalau nggak cukup untuk berdua, Adik saja yang temani ibu naik haji,” kata Saiful. Istrinya pun menyanggupi.

Sejak itu, mulailah mereka mencari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan, asal halal. Istri Saiful bekerja di sebuah restoran Indonesia. Sementara Saiful bekerja menjadi cleaning service di dua perusahaan yang berbeda. Pagi hari berangkat bekerja, sepulang kuliah dilanjutkan lagi. Bahkan terkadang hingga tengah malam. Jika liburan tiba, Saiful mencari pekerjaan tambahan seperti menjadi tukang cabut rumput di nursery (tempat pembibitan), memetik buah cherry, memanen dan menyortir kentang, hingga mengumpulkan dan menjual botol bekas. Hal baru yang membuat seru aktivitasnya selama di Australia.

Dari sekian banyak aktivitasnya, pekerjaan mencabut merupakan aktivitas yang sangat berkesan bagi Saiful. Nursery ini memiliki luas 1 km persegi dan terletak jauh dari kota. Di dalamnya terdapat berbagai macam tanaman, mulai dari bunga-bungaan sampai pohon-pohonan. Ada bunga “po siploh” hingga mawar berduri. Ada pula bibit anggur sampai pohon apel. Di sinilah Saiful menghaniskan liburannya dengan menjadi tukang cabut rumput.

Sehari-hari, Saiful berangkat jam delapan pagi dan pulang jam 6 sore. Untuk mencabuti rumput, ia harus merangkak di bawah sela-sela batang dan ranting bibit pepohonan. Saat paling berat adalah ketika membersihkan rumput di bawah pohon mawar yang berduri. Badan pun menjadi bulan-bulanan duri batang mawar. Berat...sampai pinggang terasa pegal dan jemari tangan serasa tiada berasa lagi.

Esoknya, jemari tangan serasa kaku. Pelan-pelan, jemari tangan diurut dengan minyak zaitun sampai rasa kaku hilang dan siap digunakan kembali. Demikian seterusnya sampai dalam waktu satu bulan tersebut kami sudah mengumpulkan setengah dari dana haji. Pada masa penyetoran dana haji, kami sudah mengumpulkan uang sebesar 6000 dolar atau setara dengan 40 juta rupiah! Dengan uang sebanyak itu, kami berdua bisa berangkat bersama menemani ibu mertua naik haji. Subhanallah, maha suci Allah. Mungkin, jika tidak diajak menemani ibu mertua naik haji, bisa jadi Saiful naik haji di umur 45. Berkat doa mertuanya pula mereka bisa pergi menuanaikan haji bersama sekeluarga. Alhamdulillah...(RA)
SelengkapnyaNaik Haji Berkat Doa Mertua

Berkat Sedekah, Sekuriti Naik Haji-kan Ibunya

Diposting oleh Fera on Sabtu, 31 Maret 2012



Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah[2]: 245).

Tak heran jika banyak orang menjadikan sedekah sebagai amalan untuk meraih hajat yang diinginkan. Memang, demikianlah keutamaan sedekah yang hasilnya pun telah dibuktikan secara nyata oleh banyak orang. Nah, salah satunya adalah seorang sekuriti pegawai POM bensin yang bisa menghajikan ibunya setelah bersedekah dan memperbaiki shalatnya. Sumber kisah ini disampaikan Ust. Yusuf Mansur dalam sebuah kuliah onlinenya.

Kisah ini berawal saat Ust. Yusuf Mansur sedang berada dalam sebuah perjalanan. Karena capek, ia pun tertidur. Namun tiba-tiba, beliau terbangun karena hendak buang air kecil. Tak lama kemudian ia dan sopirnya mampir ke sebuah POM bensin yang lumayan bagus. Ada minimart-nya, adapula tempat untuk ngopi-ngopi santai.

Saat keluar dari mobil, tiba-tiba ada seorang sekuriti POM Bensin yang memanggilnya.

“Pak Ustadz!” seru sang sekuriti sambil melambai dan mendekatinya. Ust. Yusuf Mansur pun berhenti dan menunggu.

“Alhamdulillah, nih. Bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan kita Cuma lihat di TV aja...”

Ustadz Yusuf Mansur pun tersenyum mendengar penuturan sekuriti tersebut. “Saya ke Toilet dulu, ya?” ujarnya.

“Nanti saya ingin ngobrol, boleh Tadz?” lanjut sekuriti.

“Saya lagi buru-buru, loh. Tentang apaan sih?” tanya sang Ustad.

“Saya bosen jadi satpam, Pak Ustadz,” ungkap sang sekuriti.

Sejurus kemudian Ust. Yusuf Mansur tersadar. Barangkali Allah memang punya skenario memberhentikan dirinya di tempat ini dan bertemu dengan sekuriti tersebut.

“Oke, nanti setelah dari toilet, ya?”

Beberapa saat setelah itu...

“Jadi bagaimana, bosen jadi satpam? Emangnya nggak gajian?” tanya Ust. Yusuf Mansur membuka percakapan di kedai kopi sekitar POM bensin itu.

“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”

Selanjutnya obrolan terus berlangsung. Intinya, Ust. Yusuf Mansur menyarakan agar sang sekuriti memperhatikan betul-betul datangnya waktu shalat. Shalat hendaknya di awal waktu. Segera setelah adzan berkumandang atau bahkan sebelum panggilan Allah swt lewat adzan berkumandang. Jika ingin urusannya diperhatikan Allah maka kita pun jangan mengabaikan panggilan Allah. Pakaian pun perlu diperhatikan. Gunakan dan siapkan pakaian terbaik untuk bertemu Allah swt.

“Yang kedua,” lanjut Ust. Yusuf Mansur, “keluarin sedekahnya.”

Sang sekuriti tertawa. “Pak Ustadz, bagaimana mau sedekah. Hari gini aja nih, udah pada abis belanjaan. Hutang di warung terpaksa dibuka lagi. Alias ambil dulu, bayar belakangan.”

Selanjutnya, sang sekuriti bercerita bahwa gajinya sebesar 1,7 juta rupiah per bulan. Itu diperolehnya setelah kerja siang, sore, dan malam selama tujuh tahun. Gaji tersebut untuk bayar motor, kontrakan, susu anak, dan bayar segala macamnya.

“Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?” tanya Ust. Yusuf Mansur setelah tahu sang sekuriti tinggal di mess.

“Pengen kayak orang-orang, Pak ustadz,” ujar sekuriti.

“Yaa..., susah kalau begitu mah. Pengen kayak orang-orang, tapi motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot...”

Selanjutnya Ust. Yusuf Mansur menekankan kembali pentingnya tekad kuat sang sekuriti untuk memperbaiki shalatnya. Mulai dari tepat waktu saat shalat wajib, juga menambah amalan shalatnya dengan shalat sunnah seperti shalat taubat, shalat hajat, shalat dhuha, dan shalat tahajjudnya. Sang sekuriti pun berjanji akan melakukan semua amalan tersebut mengajak bersama istri dan anak-anaknya. Ia pun berjanji akan lebih rajin membaca Al Quran.

Mengenai sedekah, sang sekuriti masih sayang menjual motornya untuk sedekah. Uang tidak punya, apalagi emas. Tak kurang akal, Ust. Yusuf Mansur mengusulkan sang sekuriti agar menyedekahkan gajinya bulan depan alias kas bon di awal.

Di lain hari, karena benar-benar ingin merubah hidupnya, sang sekuriti yang aslinya punya gelar sarjana akuntansi ini pun memberanikan diri mengajukan kas bon ke bosnya. Alhamdulillah, dikabulkan. Hal ini disebabkan alasan sang sekuriti yang mengikuti saran Ust. Yusuf Mansur. Sang Bos dan teman-temannya ingin juga melihat bukti dari kehebatan sedekah dengan melihat perkembangan sang sekuriti selanjutnya. Jika sebelum akhir bulan hutang lagi, berarti saran dan perubahan pada sekuriti tersebut gagal.

Setelah ditunggu-tunggu, ternyata si sekuriti tidak juga datang untuk menghutang lagi. Namun, motornya tidak lagi dilihat kawan-kawannya. Apa yang terjadi?

Tadinya, si sekuriti sudah siap-siap mau kas bon lagi, karena sampai pertengahan bulan belum ada tanda-tanda keajaiban. Namun, tanpa disangka-sangka si sekuriti ketiban rejeki nomplok. Meski Cuma memediasi antara penjual dan pembeli, ia mendapat bagian dari transaksi penjualan tanah di kampungnya. Berapa yang didapatkan? 17,5 juta rupiah! 10 x lipat lebih dari yang ia sedekahkan.

Menyadari begitu dahsyatnya kehebatan sedekah, ia malu kepada Allah. Apa yang ia dapatkan sungguh di luar dugaannya. Oleh sebab itu, ia pun menjual motor kesayangannya seharga 13 juta rupiah. Ditambah dengan 12 juta dari hasil transaksi tanah, ia memberangkatkan ibunya naik haji. Sisanya yang lima juta pun menjadi bekal keperluannya sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak perlu kas bon lagi.

Cerita sang sekuriti membuat sang Bos menjadi takjub. Dikumpulkannya para staf dan karyawan untuk mendengar penuturan langsung dari sang sekuriti.

Kisah ini bukan bercerita tentang keajaiban sedekah dan shalat semata, tetapi juga tentang keyakinan. Benar, keyakinan bahwa Allah swt yang Maha Kaya. Jika Allah swt sudah berjanji akan memberikan keberuntungan kepada hamba-Nya, ia tidak akan pernah mengingkari janji itu.

Nah, bagi Anda yang ingin naik haji tapi masih memiliki halangan, wujudkan dengan memperbaiki shalat, doa, dan sedekah kita. Dengan melaksanakan itu semua, insya Allah, niat kita naik haji akan menjadi kenyataan. (RA)
SelengkapnyaBerkat Sedekah, Sekuriti Naik Haji-kan Ibunya